Analisis Saiful Macan: Anatomi Penyimpangan Komite Sekolah, “Sukarela Paksa”, dan Air Mata Orang Tua di Balik Sistem

Berita93 Dilihat

Jakarta, Mediabangsanews.com

Jurnalis sekaligus pemerhati pendidikan, Saiful Macan kembali menggetarkan jagat pendidikan nasional melalui analisis tajam yang merobek lapisan-lapisan manipulasi dalam praktik komite sekolah. Dalam kajiannya, Saiful membedah bagaimana istilah “sumbangan sukarela” digeser maknanya menjadi kewajiban halus yang ditekan melalui moral, rasa tidak enak, dan struktur kekuasaan.

Namun di balik kritik akademiknya, Saiful menyelipkan narasi yang membuat banyak orang tua terdiam lam, sebuah gambaran syahdu yang menyingkap luka sunyi di balik praktik pendidikan yang harusnya membahagiakan.

Saiful menyebut sumbangan sebagai konsep sosial yang sakral: lahir dari keikhlasan, bukan tekanan.
Namun ketika masuk ke mekanisme komite, istilah itu berubah menjadi alat kontrol sosial.

“Ini sumbangan yang prosedurnya seperti cicilan,” ujarnya.

Ia menyebut fenomena ini sebagai disonansi moral, ketika kemuliaan dipakai sebagai topeng penarikan dana.

Baca Juga  Gegara Maraknya peredaran Narkoba dan Miras, Polsek Bungku Utara digeruduk Warga

Di tengah analisanya, Saiful mengisahkan satu potret yang ia amati di sebuah sekolah.

“Saya pernah melihat seorang ibu duduk di serambi sekolah, memegang formulir keberatan. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena harga dirinya merasa diuji. Ia bilang pelan: ‘Saya ingin anak saya tetap sekolah, Pak… tapi saya tidak punya uang sebesar itu.’

Ia menunduk, tidak berani menatap petugas. Bukan karena bersalah, tetapi karena malu dipaksa merasa bersalah.

Narasi sederhana itu membuat banyak kalangan pendidikan terdiam. Karena di balik retorika “sumbangan”, ada kenyataan yang tidak pernah mereka mau lihat.

Saiful kembali masuk pada analisis struktural: sekolah berdiri di balik komite untuk memisahkan citra dari praktik. “Ini governance decoupling,” ujarnya,
pemisahan tanggung jawab formal agar sekolah tampil suci sementara komite mengerjakan hal yang sensitif.

Baca Juga  Cegah Stunting, Bupati Mojokerto Bersama Dinkes Terus Gencarkan Jum'at Ceria

Dalam perspektif etika publik, ini adalah bentuk paling klasik dari pengalihan beban moral.

Saiful menyebut fenomena itu sebagai ritual administratif penuh tekanan emosional.
“Ketika ada kolom keberatan, itu bukan lagi sumbangan,” tegasnya. “Yang sukarela tidak butuh izin untuk tidak memberi.” tambahnya.

Ia menyebutnya administrasi rasa malu, yang memaksa orang tua menunduk lebih rendah dari seharusnya.

Dalam bagian paling pedas, Saiful menilai mekanisme ini dijalankan oleh kecerdasan yang tersesat.

“Ini bukan sekadar kekeliruan teknis. Ini kecerdikan strategis yang gelap, kelicikan berkelas yang dibangun oleh otak-otak cerdas yang memilih arah keliru.” Teriaknya.

Ia menyebutnya maladministrasi bersarung moral: rapi, elegan, tersenyum, tetapi menekan.

Saiful menambahkan satu kisah yang membuat pembaca seolah disayat pelan, “Ada seorang anak yang saya temui. Ia bertanya kepada ibunya: ‘Bu, besok aku boleh ikut ujian kan?’

Baca Juga  PNIB : Pajak Bukan Palak, Bebaskan PBB Untuk Masyarakat Tidak Mampu Demi Keadilan yang Bijaksana

Ibunya tersenyum, menyembunyikan kegundahan. Ia bilang, ‘Boleh, Nak.’ Padahal ia baru saja menggadaikan perhiasan kecil peninggalan neneknya demi membayar sesuatu yang disebut sumbangan sukarela.

Anak itu tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya ingin sekolah. Ia tidak tahu dunia orang dewasa kadang lebih kejam dari ujian matematika.

Saiful menutup analisanya dengan nada paling keras, namun paling menyentuh, “Komite seharusnya menjadi jembatan. Tapi ketika jembatan dibangun dengan tekanan dan rasa malu, maka orang tua menyeberang sambil menahan tangis. Seperti memasuki pintu putar: datang dengan harapan, pulang dengan kewajiban yang tidak mereka rencanakan.” ucapnya lirih.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya bukan ruang untuk mempermalukan yang lemah.
“Jika sumbangan berubah menjadi beban, maka bukan orang tua yang gagal, tetapi sistemnya.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *