Dugaan Manipulasi Pelayanan Persalinan di RSUD Kertosono, Oknum Dokter dan Bidan Terancam Dilaporkan ke IDI dan Dinkes

Berita56 Dilihat

Nganjuk, Mediabangsanews.com

RSUD Kertosono sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Kabupaten Nganjuk dikenal luas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, belakangan muncul dugaan adanya praktik yang dinilai mencederai integritas pelayanan medis, khususnya di ruang bersalin Delima.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber internal, seorang tenaga medis bernama Dr I Made Saria yang diperbantukan di RSUD Kertosono diduga tidak secara langsung menangani proses persalinan pasien, namun namanya disebut sebagai dokter penolong persalinan.

Salah satu sumber menyebutkan, terdapat pesan yang disampaikan kepada pasien agar menyatakan bahwa proses kelahiran ditangani oleh dokter tersebut apabila ada pihak yang menanyakan, baik dari wartawan, LSM, maupun BPJS.

“Bilang kalau yang membantu kelahiran adalah Dokter Made ya, Bu,” ujar salah satu perawat kepada pasien, sebagaimana ditirukan oleh sumber.

Keterangan serupa juga disampaikan pasien lain yang berasal dari kecamatan berbeda. Mereka mengaku proses persalinan lebih banyak ditangani oleh perawat atau bidan, bukan langsung oleh dokter yang bersangkutan.

Atas dugaan tersebut, Ketua LPRI Kabupaten Nganjuk, Joko, menyampaikan bahwa laporan telah diajukan ke sejumlah pihak, termasuk Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Dinas Kesehatan setempat melalui mekanisme Pengaduan Masyarakat (Dumas).

  • Menurut Joko, apabila terbukti ada pelanggaran kode etik, maka IDI memiliki kewenangan melakukan:
  • Pemeriksaan awal dan pengumpulan bukti,
    Sidang etik.
  • Penjatuhan sanksi, mulai dari teguran hingga rekomendasi pencabutan izin praktik.

“Tindakan ini penting untuk menjaga profesionalisme dokter dan melindungi hak pasien. Jika masyarakat memiliki bukti, silakan melapor ke Dinkes atau IDI,” ujar Joko.

Hingga berita ini diterbitkan, Direktur RSUD Kertosono, Suharyono, belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp dan panggilan telepon belum mendapatkan respons.

Kasus ini masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak rumah sakit dan hasil pemeriksaan dari instansi berwenang.

(Tim)
Bersambung